Jangan Takalluf (Maksain)

Faihu.com – Dalam pengajian online kali ini kita akan membahas tentang takalluf. Apa itu takalluf? Menurut Imam an Nawawi, takalluf adalah perbuatan dan perkataan yang dilakukan dengan penuh kesulitan dan kurang terdapat kemaslahatan di dalamnya. (Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarof An Nawawi)

Misalnya begini, ada seorang ustadz ditanya oleh seorang jamaahnya. “Ustadz, bagaimana caranya shalat di bulan?” Si Ustadz sambil bercanda menjawab, “Ente pergi dulu deh ke bulan, nanti kalo udah sampe bulan SMS-in ane, ntar jawabannye ane bales ke handphone Ente.”

Nah pertanyaan yang seperti itu bisa disebut takalluf, maksain banget. Karena hakikatnya pertanyaan itu tidak penting setidaknya buat dirinya, yang sepengetahuan si Ustadz, sekarang aja ketika masih di bumi dia jarang sholat apalagi di bulan? udah gitu dia bukan astronot pula. Bukankah itu hanya mengada-ngada dan mempersulit dirinya dan orang lain?

Ada lagi misalnya seseorang Kyai yang sudah belajar di Arab 8 tahun ditanya tentang makna bahasa Arab yang dia tidak ketahui, bukan suatu aib bila dia menjawab, “saya tidak tahu”. Mungkin ada orang yang ngeledek, “Masa udah 8 tahun di arab nggak ngerti bahasa arab?” Si Kyai kan bisa menjawab, “Lho.. Onta aja yang sejak lahir udah di Arab nggak ngerti bahasa Arab koq, apalagi ane yang baru 8 tahun di arab?” he..he..

Dari Masruq, berkata: “Kami masuk majelis Abdullah bin Mas’ud. Lalu dia berkata: “Wahai sekalian manusia, barangsiapa yang mengerti tentang sesuatu ilmu pengetahuan, maka sampaikanlah sepanjang yang diketahuinya. Dan barangsiapa yang tidak mengerti (tidak tahu), maka ucapkanlah: “Allahu a’lam” (Allah lebih mengetahui akan hal itu). Sebab sesungguhnya termasuk bagian dari ilmu, jika seseorang itu mengucapkan terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya dengan ucapan: “Allahu a’lam”. Allah berfirman kepada Nabi-Nya saw: “Katakanlah wahai Muhammad: “Aku tidak meminta upah kepadamu karena dakwahku ini dan aku bukannya golongan orang yang memaksa-maksakan diri (mutakallifin).” (QS. Shaad 38:86) (HR. Bukhari)

Takalluf dalam perbuatan misalnya, Karena ingin disebut berbakti kepada orang tua, ada seorang miskin yang ngotot membangun kuburan orang tuanya dengan biaya jutaan rupiah dari hasil berhutang. Padahal berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal harusnya dengan memperbanyak berdoa untuk mereka bukan dengan membangun kuburannya dengan bangunan yang megah dari hasil ngutang pula. Maksain banget tuh orang.

Dari Ibnu Umar ra berkata, “Kami dilarang untuk takalluf.” (HR. BUkhari)

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s