Fenomena Habib

Beberapa hari ini saya banyak melihat spanduk, banner dan baliho besar dengan background bergambar seorang Habib (sebutan untuk ulama yang masih ada garis keturunan Sayyidah Fatimah binti Rasulullah SAW) . Gambar Habib itu ada yang sedang berdo’a, ada yang sedang senyum, bahkan ada yang tanpa ekspresi. he..he..

Dalam spanduk dan baliho itu biasanya berisi ajakan untuk menghadiri sebuah acara keislaman yang digelar dengan pembicara utama sang Habib.

Kalau saya sedang dalam perjalanan pulang di malam hari, saya juga sering menemui konvoi kendaraan anak-anak muda. Ada yang naik sepeda motor sambil bawa bendera, ada pula yang naik angkutan umum dan duduk diatas kab mobil sambil bawa bendera juga. Katanya sih mau hadir ke pengajian Habib. Ciri khas mereka  memakai kain sarung, berpakaian koko putih dan peci putih. Mungkin harus begitu seragamnya ya?

Saya bergembira dengan fenomena maraknya pengajian di Jakarta, tapi saya juga merasa khawatir apakah ini fenomena kebaikan atau sebaliknya. Saya cuma berpikir, apakah perlu datang ke pengajian dengan cara konvoi naik diatas kab angkot sambil gendang-gendang dan bawa bendera bahkan tidak jarang menganggu tertib lalu lintas? ah, mudah-mudahan sih tidak begitu.

Tulisan ini dipublikasikan di Opini dan tag . Tandai permalink.

45 Balasan ke Fenomena Habib

  1. Ummati berkata:

    Mas, saya dulu juga kayak Mas Faihu tentang Habaib ini. Lebih curiga dan lebih sinis dari Mas Faihu. Kalau Mas Faihu sih masih sangat sopan dan hati-hati. Ini karena orang-orang di kampung saya pernah tertipu Habib Gadungan.

    Tapi semuanya berubah jadi cinta. Gara-garanya setahun yang lalu, pas musim maulidan seperti ini. Anak saya, perempuan klas IV SD, umur 10 tahun saat itu, malam-malam merengek ngajakin ikut maulidan habib Munzir di Terminal Perumnas Kleder Jaktim. Karena saya nggak mau, anak saya nangis dan kelihatan benci banget sama saya. Dengan pertimbangan demi kebaikannya, saya lalu menuruti mengantarnya bersama ibunya.

    Sampai di lokasi, hujan mulai turun. Tapi anak-anak muda itu rupanya nggak takut hujan, mereka terus mengalir dari berbagai penjuru, sampai terminal yang cukup luas itu dipenuhi pemuda dibawah guyuran hujan yang cukup deras. Tepat Jam 21.00 Habib munzir datang, dan acara langsung dimulai. Yang membuat saya merasa aneh adalah antusiasme para pemuda yang nggak bubar oleh guyuran hujan deras. Kami sendiri mancari tempat berteduh, takut hujan.

    Nah, yang membuat saya lebih terpesona dan benar-benar hormat, ternyata ceramah Habib Munzir amat sangat bermutu, banyak menyitir Hadits-hadits Bukhari Muslim dan jarang sekali menyebut hadits riwayat lain. Hujjah sangat kuat, saya yakin orang-orang yang berseberangan dengannya tentang masalah-masalah agama jika bertemu langsung dengan beliau akan tunduk, Mas.

    Sejak itulah setiap ada acara Habib Munzir di wilayah Jaktim kami selalu menyempatkan diri untuk hadir. Caba Mas Faihu sekali-kali hadir dan dengarkan ceramah beliau sampai selesai. Insyaallah Mas Faihu akan mengerti kenapa para pemuda itu bisa antusias mengikuti pengajian Habib Munzir. Untuk tahu jadwal di mana dan kapan pengajiannya, silahkan klik:

    http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_extcalendar&Itemid=33&extmode=flat

    http;//ummatiummati.wordpress.com

  2. Salman berkata:

    Bnr2 fenomena memang, dmn umat muslim skr lebih fanatik thd ‘bendera’ kelompoknya, fanatik thd sosok kiayi, ustdaz atw habibnya..
    Bhkn be2rapa anak mudanya melakukn arak2an atw konvoi2 yg bs mngganggu jlnya lalu lintas, pdhl kita tau bhwa di dlm Islam itu sndiri menyingkirkn batu di jln agar tdk mngganggu org yg lewat mrupakn salah satu cabang keimanan..
    Mngkn itu sdikit opini dr saya..

  3. apan berkata:

    Saya lebih suka arak-arakan untuk pergi ke suatu majelis zikir…dari pada arak2an yang mengandung unsur kemaksiatan bagi generasi muda, meski sedikit agak mengganggu lalulintas…tp insya Allah mereka terlindungi dari bahaya…! Semoga Allah tetap menjaga dan mengistiqomahkan hati mereka di jalan yang benar…Amin..!

    • brankas berkata:

      ngk gitu juga dong…ngk ada satu halpun yang me iyakan kalo sampai mensesarakan org bahkan byk org lain, harusnya oknum dari penyelengara majelis mengatur kalo perlu habibnya sendiri yang menekankan..

  4. Ahmad berkata:

    Arak2an yg penting gk mengganggu tertib lalu lintas gk apa2. Kalau memang mengganggu tertib lalu lintas, itu yang salah bukan pengajiannya. Arak2an untuk suatu partai aja gk ada yg nglarang.
    Mungkin itu sedikit opini dari saya.

  5. Faris berkata:

    Inilah kerinduan umat manusia zaman ini, mereka rindu suasana seperti dulu, mereka berbondong-bondong menimba Ilmu, membawa obor untuk mengaji, apakah hanya karena mereka berkonfoi menghadiri ceramah ulama dan beribadah, mereka penyebab besar kemacetan di jakarta, kan tidak. di daerah lain selain jakarta tidak ada satupun manusia yang keberatan. mereka yang menganggap konfoi jama’ah penyebab kemacetan adalah orang-orang yang takut rupiahnya hilang, sedangkan Allah maha mengatur apa yang ada di langit dan di bumi

  6. kacung habib berkata:

    Hidup habaib! Hidup keturunan para nabi!
    Keturunan yg akan menyebarkan syafaat pada umat manusia, yg membawa rahmat dan keluasan hidayah termasuk rizki.
    Satu2nya keturunan yg diridhoi. Ikutlah keturunan nabi wahai umat manusia, karena Allah hanya membuka maghfirohnya pada keturunan kami.
    Hidup habaib!

    • bib berkata:

      Orang bodo…lo mau dibilang islam radikal, koreksi ngk semua org suka nih cara, jadiin islam akhlaknya nabi bukan ahlaknya amarah…

    • apakah para pewaris ilmu nabi itu bukan keturunannya,
      nabi akan selalu memberi syafaat kepada umatnya bukan hanya keturunan pak…..
      dan kalo memang ALLAH hanya memberikan ridonya kepada keturunan nabi untuk apa nabi punya sahabat,punya umat,dan untuk apa para habaib menyiarkan islam.

  7. Pribumi berkata:

    Wah…ente2 pade mao aje dikibulin ‘arabi, jangan tertipu dengan label habib… di tempat ane yg ngaku keturunan Nabi pade hobi maen gaple tuuh… Derajat manusia itu ga ditentukan dari keturunan nabi apa bukan. Tapi yg paling mulia disisi Allah adalah yg paling bertaqwa.

  8. proletar berkata:

    saya kira Habib habib tersebut tidak mengetahui bahwa santri santrinya datang melalui arak2-an yg terkadang banyak melanggar lalu lintas dan mendholimi hak orang lain dalam berkendara sesuai hukum negara. Ketidaktahuan ini sayangnya terus berulang ulang, dalam hitungan puluhan tahun. Saya terus terang lebih senang dengan teman2 Salafi yang sangat memperhatikan tata cara beradab, santun dan saling menghormati dalam berkelalukan dengan sesama tetapi sangat ketat dalam urusan peribadatan.
    Sangat disayangkan seragam, kopiah, baju koko putih, jaket bersimbol, bendera bendera yang dibeli hanya merupakan perwujudan sifat haus pengakuan identitas merasa lebih Islam karena pula menghadiri kuliah umum santri Arab.

  9. AL-Wahabi berkata:

    kacung habib 28 Agustus 2010 pukul 23:06

    Hidup habaib! Hidup keturunan para nabi!
    Keturunan yg akan menyebarkan syafaat pada umat manusia, yg membawa rahmat dan keluasan hidayah termasuk rizki.
    Satu2nya keturunan yg diridhoi. Ikutlah keturunan nabi wahai umat manusia, karena Allah hanya membuka maghfirohnya pada keturunan kami.
    Hidup habaib!

    hal diatas sengaja saya copas lagi karena dari sini lah kesalahan mengenai habib berlaku.
    HABIB BUKANLAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW.

    berikut salah satu contoh silsilah salah satu habib di indonesia:

    Al Habib Hasan bin Ja’far bin Umar bin Ja’far bin Syekh bin Abdullah bin Seggaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin Adurrahman Seggaf bin Ahmad Syarif bin Abdurrahman bin Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Syekhul Kabir Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawileh bin Ali bin Alwi Al Ghuyur bin Al Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath bin Ali Kholi Qosam bin Aliw bin Muhammad bin alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad An Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far sodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Al Imam Husein Assibit bin Imam Ali KWH bin Fatimah Al Batul Binti Nabi Muhammad SAW

    nah coba saudara perhatikan semua bermuara kepada Hasan dan Husein. dan hasan dan husein anak dari Ali bin abu tholib.

    dari sini saudara dapat menilai sendiri PARA HABIB BUKAN KETURUNAN RASULLAH SAW.
    TAPI KETURUNAN DARI ABU THOLIB( paman nabi)

    berdasarkan silsilah keturunan dalam islam garis keturunan diambil dari garis bapak.
    ada beberapa hal yang boleh menyebutkan nama ibu didalam nama menjadi bin (nama ibu).
    1. tidak diketahui nama bapaknya (contoh isa bin mariam as)hanya satu-satunya di bumi ini.
    2. anak zina tidak berhak menyandang nama bapaknya sehingga yang menikahkan nya adalah wali hakim.

    jadi bagaimana mungkin para habib dan habibah termasuk para said dan syarifah itu mengaku menjadi keturunan nabi, karena sesungguhnya FATIMAH TIDAK PERNAH BERZINA DENGAN ALI, mereka menikah dan rasullah saw yang menikahkan.

    jadi dari sini kita dapat mengambil kesimpulan agar ketauhidan kita dapat terjaga yakini lah dalam hati mu walau dia anak rasul sekalipun tidak akan mampu membawa mu kedalam sorga. HANYA ALLAH SWT yang memiliki kemampuan atas itu.

    HABIB BUKAN KETURUNAN RASULLAH SAW!!!!

  10. AL-Wahabi berkata:

    Hidup habaib! Hidup keturunan para nabi!
    Keturunan yg akan menyebarkan syafaat pada umat manusia, yg membawa rahmat dan keluasan hidayah termasuk rizki.
    Satu2nya keturunan yg diridhoi. Ikutlah keturunan nabi wahai umat manusia, karena Allah hanya membuka maghfirohnya pada keturunan kami.
    Hidup habaib!
    kacung habib 28 Agustus 2010 pukul 23:06

    hal diatas sengaja saya copas lagi karena dari sini lah kesalahan mengenai habib berlaku.
    HABIB BUKANLAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW.

    berikut salah satu contoh silsilah salah satu habib di indonesia:

    Al Habib Hasan bin Ja’far bin Umar bin Ja’far bin Syekh bin Abdullah bin Seggaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin Adurrahman Seggaf bin Ahmad Syarif bin Abdurrahman bin Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Syekhul Kabir Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawileh bin Ali bin Alwi Al Ghuyur bin Al Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath bin Ali Kholi Qosam bin Aliw bin Muhammad bin alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad An Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far sodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Al Imam Husein Assibit bin Imam Ali KWH bin Fatimah Al Batul Binti Nabi Muhammad SAW

    nah coba saudara perhatikan semua bermuara kepada Hasan dan Husein. dan hasan dan husein anak dari Ali bin abu tholib.

    dari sini saudara dapat menilai sendiri PARA HABIB BUKAN KETURUNAN RASULLAH SAW.
    TAPI KETURUNAN DARI ABU THOLIB( paman nabi)

    berdasarkan silsilah keturunan dalam islam garis keturunan diambil dari garis bapak.
    ada beberapa hal yang boleh menyebutkan nama ibu didalam nama menjadi bin (nama ibu).
    1. tidak diketahui nama bapaknya (contoh isa bin mariam as)hanya satu-satunya di bumi ini.
    2. anak zina tidak berhak menyandang nama bapaknya sehingga yang menikahkan nya adalah wali hakim.

    jadi bagaimana mungkin para habib dan habibah termasuk para said dan syarifah itu mengaku menjadi keturunan nabi, karena sesungguhnya FATIMAH TIDAK PERNAH BERZINA DENGAN ALI, mereka menikah dan rasullah saw yang menikahkan.

    jadi dari sini kita dapat mengambil kesimpulan agar ketauhidan kita dapat terjaga yakini lah dalam hati mu walau dia anak rasul sekalipun tidak akan mampu membawa mu kedalam sorga. HANYA ALLAH SWT yang memiliki kemampuan atas itu.

    HABIB BUKAN KETURUNAN RASULLAH SAW!!!!

  11. ayik berkata:

    para habaib adlh keturunan nabi…
    bagaimana pun dalam tubuh bliau2 mengalir darah nabi…
    coba ente pikir..
    ente mau g dianggap cucu oleh orang tua ibu kita..
    klo masalah arak2an jangan dilihat satu sisi..
    siapa yag pernah protes arak2kan pas tahun baru…
    emang ente2 smua pernah protes…

  12. juminten berkata:

    ribut masalah habib……dah pada negakin sholat lom????zakat???puasa???dan rukun islam yang lain….cape deeeh..

    • botakbiadab berkata:

      solatnya pada bolong om…zakat lupa…
      puasa juga puasa kendang…..
      ngaji masih bata-bata….
      nabung naik haji???….nyicil motor bebek juga keteter om…
      Jihad…..kesian anak bini om…
      Rindu ramadhan???? eh…maaf om rindu THR-nya aja sama rindu jam kerja yang rada enteng….
      ikutan ngaji majelis arab-araban?? ikut doong om…
      tapi ikutan pake kopiah,,baju koko dan sarung doang,,,,di TKP lebih banyak nongkrong2 sambil ngerokok aja..
      Eh koreksi om,,kadang2 juga bangga banget klo didaulat pegang TONGKAT MERAH,,,ngatur lalu lintas….
      Ngaji sampe akhir enggak????yaa jelas om…..
      saking capeknya ikut ngaji di majelis,,,,,bangun pagi jam 8 om….
      Lha solat subuh????…..
      eh emang ada ya solat subuh????…udah lupa om….

  13. surianto berkata:

    mas wahabi para habaib itu ktrunan nabi krn semua silsilah manusia itu mengikuti garis dari ayahnya kecuali anaknya fatimah maka rsullah abah mereka

    • dody berkata:

      lantas bagaimana penafsiran dengan ayat Allah Tabaraka wa Ta’ala surat Al-Hujurat : 13 … mohon penjelasannya

  14. Dani torres berkata:

    Waduh ternyata belum pada faham masalah ahlul bait, bacalah buku2nya, jangan dari 1 sumber. Siapa sebenarnya ahlul bait ?
    Kalau perlu belajar sanad gitu ?

    HABAIB MELARANG MAULID NABI

    Pembaca, semoga dirahmati oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Artikel di bawah ini ditulis tahun 2009. Tetapi, isinya kami memandang sangat perlu diketahui oleh kita. Telah ada keterangan dari para ulama mengenai pelarangan merayakan Maulid Nabi Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak sedikit pula yang mengagungkannya. Sebagai bentuk saling menasehati sesama muslim kami memosting artikel ini, agar kitapun mengetahui bagaimana sikap habaib terhadap perkara ini. Banyak sekali yang mengaku diri mereka habaib [bahkan ada yang mengaku-aku] tetapi cara beragama dan aqidah mereka jauh dari leluhur mereka sendiri.
    Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawa nafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan “Maulid Nabi” dengan dalih “Cinta Rasul”, dan berbagai acara yang menyelisih syari’at, yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’I al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

    Dalam sebuah pernyataan yang dilansir “Islam Today,” para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru “Ittiba’ yang benar”.

    Mereka (Para Habaib) menambahkan, “Di antara fenomena yang menyakitkan adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara syi’ar-syi’ar tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta.

    Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hal itu dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

    لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)

    “Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” (HR. al-Bukhari)

    Sedangkan seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan, “Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in.

    Para Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait, “Wahai Tuan-tuanYang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah swt, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)

    “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    Berikut ini adalah teks pernyataannya:
    Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang Peringatan/ perayaan Maulid Nabi.

    الحمد لله رب العالمين، الهادي من شاء من عباده إلى صراطه المستقيم، والصلاة والسلام على أزكى البشرية، المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين .. أما بعد:

    Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syariat yang beliau bawa adalah syariat yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman,

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا (المائدة:3)

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS. 5:3)

    Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keyakinan atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين (رواه البخاري ومسلم)

    “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

    Beliau adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman,

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب:21]

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

    Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي (رواه مسلم)

    “Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku.” (HR. Muslim).

    Maka Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman,

    فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء:65]

    “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

    Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru “Ittiba’ yang benar”. Allah Ta’ala berfirman,

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ.. [آل عمران:31]

    “Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

    Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlul bait) haruslah sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan tidak menyalahi atau menyelisinya.

    Dan di antara fenomena menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah Ta’alA pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Mahulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’I al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

    Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mengikuti (ittiba) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah komitmen dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syariat Islam.

    Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

    لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)

    “Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” (HR. al-Bukhari)

    Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.

    Dan perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.

    Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa pengecualian di dalamnya,

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ (رواه مسلم)

    “Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim).

    “Wahai Tuan-tuanYang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul/ nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah swt, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)

    “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)! Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak mengajarkan petunjuk beliau! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata karena kedekatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah lelulur kalian dengan meninggalkan bid’ah dan seluruh yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda,

    مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (رواه مسلم)

    “Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut.” (HR. Muslim).

    والحمد لله رب العالمين،،

    Yang menanda tangan risalah di atas:
    1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial “Adhdhamir al-Khairiyah” di Traim)
    2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)
    3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.
    4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum “Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’I di Ghail Bawazir)
    5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).
    6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).
    7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).
    8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar as-Saniyah)
    9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).
    10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala
    11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)
    12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha). (Istod/Rydh/AN)

    Sumber: alsofwa.or.id

    • Orang Australia berkata:

      Wah panjang amat skripsi nya, bang. sepanjang itu cuma buat bilang kalo kita enggak boleh bikin maulid Nabi? buang-buang waktu aja, bang. jadi wahabi kok bangga. jaman wis edan

      • alabana berkata:

        iya yah cuma mau bilang maulid gak boleh aja ko
        ribet bgt,,dasar wahabiber,,

      • dody berkata:

        begitulah ahlusunnah .. ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan .. karena perkara agama jauh lebih berharga dengan skripsi … skripsi aja harus valid rujukannya … apalagi agama ? Allahu yahdiik!!

      • joe berkata:

        itu gak ribet, antum aja yg gak pernah diajarin sama si habib, cara beragama yang baik dan benar.

  15. hameed berkata:

    habaib nglarang maulid? ini baru berita,sayang begitu baca nama2nya kok gak ada yg kita kenal? kayak HABIB UMAR BIN HAFIZ,HABIB SALIM ASY SYATIRI,HABIB ABDULLAH ASY SYATIRI (TARIM),HABIB MUHAMMAD AL MALIKY (MAKKAH),HABIB ZEN BIN SMITH(MADINAH),HABIB ABU BAKAR ALMASYHUR (ADEN),HABIB ALI ALJUFRY(ABU DOBI),HABIB ABD KADIR ASSEGAF(JEDDAH),HABIB MUHAMMAD ALHADDAR(BAYDHO’),
    Semua nama2 yg tercantum nama2 habib yg tidak dikenal oleh jamaah muhibbin,jadi kayaknya ajakannya kurang mengena,

    • Dody berkata:

      Dikenalnya seseorang bukan jaminan akan keselamatan akidah dan manhajnya, akan tetapi kebenaran ditentukan oleh ilmu yang ada pada hati, akal dan amalannya, lihatlah dalil-dalilnya .. wallahua’lam

    • alabana berkata:

      yah itu kan habib,nya wahabiber..
      yg antio sama Maulid..

      • dody berkata:

        Tentu, siapa yang mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salaam pasti menjauhi apa yang dilarangnya … dan bid’ah adalah perkara besar yang dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salaam … oleh karena itu jauhilah perayaan maulid karena tidak disyariatkan

  16. hameed berkata:

    dan kalau nt bilang habib bukan keturunan Nabi berarti secara tidak langsung nt bilang Nabi tidak punya keturunan yg meneruskan darahnya (bahasa arabnya RAJULUN ABTAR) sama persis dengan tuduhan kafir quraisy ketika putra Nabi (ABDULLAH) wafat,NABI dihina dengan sebutan ABTAR,LIHAT SURAT ALKAUTSAR…..

  17. Dody berkata:

    bismillah,

    Saya telah membaca tulisan habib mundzir dengan judul kenalilah aqidahmu .. akan tetapi pada awal pembahasan saya menemukan kekeliruan dalam penerjemahan hadits sehingga sangat bertentangan maknanya .. wallahua’lam apa tujuannya, karena agak aneh karena beliau adalah habib yang seharusnya fasih dalam berbahasa arab … bahkan apabila ada kesengajaan maka ada ancaman bagi siapa saja yang berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salaam … “Man kadzaba a’laiya muta’ammidan palyatabawwa maq’adahu minannaar”.

    Artinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah SAW “Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”.
    (Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll)

    Maka aku nasehatkan untuk tidak mengambil ilmu dari tulisan tersebut demi agamamu …. fabarakallah fiikum … wallahua’alam

  18. china berkata:

    keturunan nabi? apa kagak pernah baca sejarah tuh?
    nabi mohammad aja gak punya anak laki2 kok ada yg ngaku keturunan nabi, trus kalo ada embel2 keturunan nabi gitu udah hebat ya?
    semua manusia sama dimata TUHAN!

  19. HAFIDZ berkata:

    ?

  20. dildaar80 berkata:

    23/07/2008 1:41:57
    Formasi Otoritas Haba’ib dari Dulu hingga Kini

    Roundtable discussion yang berjudul “Islam Politik dan Formasi Otoritas Haba’ib: Dari Kwitang hingga FPI” di ruang sidang CSRC UIN Jakarta kemarin (22/7 2008) berlangsung meriah. Pembicara utama, Ismail Fajrie Alatas, yang akrab dipanggil Ajie, Research Scholar Department of History, National University of Singapore (NUS) dan menyelesaikan S2 di kampus ini. Peristiwa kekerasan di Monas yang melibatkan FPI yang diketuai Habib Rizieq sebulan yang lalu, sangat terkait dan menarik untuk dikupas dengan analisa tesis yang dipaparkan oleh Ajie. Presentasi yang menggunakan foto-foto sejarah para habaib di Indonesia ini menarik dan tidak menjemukan. Sejarawan yang berumur 25 tahun ini, telah menulis beberapa buku seperti “Sungai Tak Bemuara; Risalah Konsep Ilmu dalam Islam Sebuah Tinjauan Ihsani (2006)” dan “Renungan Seorang Pemuda Muslim Di Tengah Kemurungan (2005)”

    Acara ini dibuka oleh Chaider S. Bamualim, Direktur CSRC UIN Jakarta. Dia mengatakan, bahwa ini isu yang penting, dan tidak banyak dibahas oleh orang, bagaimana otoritas habaib, trend, dan jatuh bangunnya habaib sampai sekarang. Habaib merupakan bentuk jamak dari kata habib diartikan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah az-Zahra. Indonesia merupakan negara yang memiliki habaib terbanyak di dunia, yaitu sebanyak 2 juta, sedangkan yang masih hidup sebanyak 1,2 juta. Sementara di seluruh dunia tercatat 20 juta habaib (muhibbin) yang terbagi 114 marga. Hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar habib. Di Betawi, habaib memiliki arti sebagai orang-orang Arab dari Hadramaut, Yaman, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dan menguasai ilmu-ilmu keislaman.

    Menurut Adjie, Habaib adalah orang indonesia yang mempunyai otoritas religious, karena mempunyai hubungan genealogis sampai ke Muhammad. Tarikat Alawi beda dengan tarikat sufi, tidak berbentuk thaifah, tapi merupakan kompleks para wali-wali, teks, ritual, tempat suci di hadramaut, dan jaringan persahabatan. Elemen terpenting adalah genealogy.

    Menurut Ajie, catatan pinggir Gunawan Moehammad berjudul “indonesia” pada Juni 16, 2008, yang mengatakan “Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir! Ini bukan Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun 2007”, adalah sebuah pedagogy tentang pengajaran pada sebagian warga indonesia untuk mengindonesia. Gunawan melanjutkan, ” Ingatkah, Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut ”bhineka-tunggal-ika”. Saya mengimbau agar Saudara juga merawat rahmat itu.”

    Ilustrasi ketegangan habaib dan orang Indonesia dalam tulisan Gunawan tersebut, menurut Ajie menjadi tanda, bahwa habaib disimbolkan sebagai penyulut kekerasan. Dalam penelitian yang pernah dilakukan Ajie, keberadaan habaib di Indonesia sangat terkait dengan 3 habib besar yang disebut Ajie sangat berpengaruh di Indonesia, pertama, Habib ‘Ali b. Abdul Rahman al-Habsji (Kwitang), kedua, Habib ‘Ali b. Husayn Al-Attas (Bungur), ketiga, Habib Salim b. Jindan

    Tiga habib tersebut menjadi guru bagi ulama lokal atau kiai-kiai kampung di Betawi. Banyak ulama besar Betawi, seperti KH Abdullah Syafi`i, KH Tohir Rohili, KH Fatullah Harun, KH Hasbialloh, KH Ahmad Zayadi Muhajir, KH Achmad Mursyidi, Syekh KH Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary, mu`allim KH M Syafi`i Hadzami, dan mu`allim Rasyid berguru kepada Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi (dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang) dan kepada Habib Ali Bin Husien Al-Attas (dikenal dengan nama Habib Ali Bungur). Disamping itu juga ulama Betawi lainnya berguru juga kepada Habib Salim Bin Jindan, Otista, Jakarta Timur, yang terkenal dengan perawi hadis. Tetapi pada saat yang sama, ulama Betawi tersebut juga berguru kepada para kyai dan tuan guru yang asli Betawi yang sebagian besar tidak pernah berguru kepada habaib di Indonesia.

    Interaksi yang terjadi antara habaib dan ulama di Betawi sangat cair dan harmonis dalam konsep kesetaraan. Sehingga bukan menjadi persoalan ketika mu`allim Radjiun Pekojan, seorang ulama Betawi, dapat menikahi seorang syarifah dari keluarga habaib. Sesuatu yang sulit terjadi di tempat lain. Begitu pula dengan masyarakat Betawi. Kualitas penghormatan mereka terhadap habaib sama saja dengan kualitas penghormatan mereka terhadap ulama. Misalnya, di rumah-rumah orang Betawi, foto-foto yang terpasang bukan hanya foto para habaib tetapi juga ulamanya. Haulan seorang habib sama ramainya dengan haulan seorang ulama Betawi. Pola interaksi inilah yang menjadi warisan berharga untuk para penerusnya.

    Hubungan harmonis habaib dan ulama lokal menjadi jaringan kuat untuk menggalang massa. Ini yang dijelaskan Ismail Fajrie Alatas, sering digunakan oleh kepentingan politik tertentu menggalang massa, misalnya kasus Pam Swakarsa pada Sidang Istimewa DPR. Ini menguntungkan bagi elit politik yang menggunakan network yang dimulai oleh 3 habaib ini, tegasnya.

    Aji menambahkan, tentang kasus penangkapan Habib Rizieq, sebagai kombinasi perjalanan panjang formasi habaib, namun dengan historikal konteks habaib, para habib yang biasanya tidak hanya mengaji, ternyata turun jalan dan demonstrasi untuk mendukung Rizieq. Ada demontran yang mengatakan, bahwa SBY telah berani menangkap cucu nabi.

    Namun, tidak semua habib itu sama dengan Rizieq, bahkan menurut Ajie, ada beberap habieb yang menjaga jarak dengan cara-cara kekerasan. Lihat saja, misalnya, habib Munzir, dengan gerakan damai, konvoi di jalan dengan damai.

    Tanya Jawab

    Dalam session tanya jawab, delapan orang bertanya dan berbagi pendapat tentang tema ini. Beberapa pertanyaan muncul.

    Noorhaidi mempertanyakan kecenderungan habaib untuk selalu dekat dengan kekuasaan. Dilihat dari fenomena dan paparan yang disampaikan oleh Ajie. Faktor apa yang menyebabkan kaum habaib selalu dekat dengan kekuasaan. Apakah karena doktrin sunni yang mendorong untuk dekat dengan kekuasaan. Atau adanya dorongan persaingan antar klan di Hadramaut yang memaksa mereka mencari tempat baru di Indonesia.

    Salah seorang perserta juga mempertanyakan apakah ada pengaruh kekerasan yang dilakukan FPI dengan ritual ratiban yang berbeda dengan habib lainnya. Apakah ada pengaruh tradisi ratiban yg berbeda terhadap kekerasan, yang dijawab Ajie, tidak ada.

    Irfan Abubakar, melihat adanya fenomena habib yang lain dari rizieq, di mana habib Munzir, malahan membawa peace ke dalam aktivitas dengan massa nya yang selalu konvoi dengan peci putihnya. Fenomena habib Munzir yg menggunakan media baliho, ini fenomena terbaru habib di Jakarta yang melakukan dzikir massal. Ini berbeda yg dilakukan habib riziq. Irfan mengusulkan untuk mempromosikan habib Munzir, sebagai tokoh Peace builder.

    Sedang menurut Harun, dia tertarik dengan cerita tentang FPI, menurut dia Rizieq tidak jauh beda dengan Gus Dur di NU. Habib Rizieq, menurutnya, adalah wakil sosok yang nyeleneh di kalangan habaib, dan ini tidak mewakili sosok habib secara keseluruhan.

    Beda lagi dengan pendapat Abd Khair, bahwa kemunculan Habib Rizieq ini merupakan penanda, adanya kebangkitan habib untuk diperhatikan oleh pemerintah.

    Sedang menurut beberapa peserta diskusi akhirnya dapat menyimpulkan bahwa orang-orang FPI merasa dapat exist dan diakui oleh masyarakat dengan melakukan kekerasan. Dan mungkin dengan cara seperti itu lah mereka dapat menegakkan visi dan misi organisasi yang termaktub dalam buku besar organisasi.

    Diskusi yang dimoderatori oleh Suparto ini berlangsung 3 jam. Peserta tidak diarahkan untuk menyimpulkan pada satu kesimpulan, tapi diharap untuk menyimpulkan sendiri, sebab perkembangan diskusi yang tajam dengan opini yang berbeda tidak memaksa seseoarang untuk menyimpulkan. Tentu saja, analisa sejarah yang dibuat oleh Adjie sangat membantu dalam menganalisis kasus-kasus yang belakangan terjadi di Indonesia.[] (sajad/csrc)

    http://www.csrc.or.id/berita/index.php?detail=20080723014157

  21. dildaar80 berkata:

    “Maaf bu, gak bisa masuk, banyak parkiran mobil !” begitu seorang pria berkoko dan berpeci putih berseru kepada seorang ibu yang hendak membelokkan mobilnya ke arah sebuah komplek perumahan. “Tapi saya tinggal di sini, masa saya gak boleh lewat sini ?” sang ibu keheranan. “Lagi ada acaranya Habib, bu” sang pria menjawab. “Terus kenapa, saya harus tunggu acara itu selesai baru saya boleh pulang ke rumah saya sendiri ?” perlahan kesabaran mulai beranjak dari sang ibu. “Ibu jangan macam2, beliau Habib, bu!” tak kalah keras sambutan dari si pria.

    Demikian secuplik pembicaraan yang terjadi di komplek gw beberapa bulan lalu saat sang Habaib yang kebetulan baru mengontrak rumah di komplek kami mengadakan acara zikir yang dihadiri pula oleh seorang menteri pada kabinet yang lalu. Sejumlah pejabat setempat yang menyertai kunjungan sang menteri bersama protokolernya tak ayal membuat komplek kami berubah menjadi areal parkir dadakan. Peristiwa ini sempat membuat citra sang habib yang notabene adalah penghuni baru menurut drastis di mata penghuni komplek.

    Namun citra ini perlahan membaik, karena nyatanya sang habib sendiri begitu ramah dan sangat menghormati warga sekitar. Semua orang yang berpapasan denganya ditegur dengan tulus, tak terlihat kesan basa-basi. Saat liburan biasanya gw sempatkan menunaikan shalat maghrib di mushala, di sanalah pertama kali gw berinteraksi dengan beliau. Tanpa sungkan, beliau datangi setiap jamaah mushala yang baru masuk, beliau salami, tanyakan kabarnya. Jika itu orang yang lebih tua, tak segan beliau mencium tangannya seolah berhadapan dengan orang tuanya sendiri.

    Gw mulai berpikir, ternyata ada hal yang tidak jalan. Contoh yang tidak sampai ke umat bahwa Rasululloh dan sang habib sendiri mengutamakan hubungan interpersonal dalam kesehariannya.

    Fenomena Habib, majelis zikir dan pengikut setianya seperti menyeruak ke permukaan belakangan ini. DR. Alwi Shihab mantan Menlu RI dalam sebuah kesempatan wawancara menyebut fenomena ini sebagai ‘Inflasi Habaib’. Beliau sendiri memiliki garis keturunan habaib namun bersama dua kakak-nya, memilih tidak menggunakan keistimewaan ini.

    Lalu apa habib itu ?
    Menurut wiki, sebutan Habib (bentuk jamak dari habaib) diberikan kepada keturunan Rasululloh melalui Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. 1,2juta Habib yang ada di Indonesia sebagian besar adalah keturunan Husain dan berasal dari Yaman. Di dunia ada 20 juta orang yang tersebar di 114 negara menyandang gelar ini. Para habib sangat dihormati di Indonesia karena dianggap memiliki tali pengetahuan yang murni karena memiliki garis keturunan langsung dengan Rasulullah.

    Menurut gw yang penting bagi masyarakat adalah kontribusi beliau kepada lingkungan, bukan garis keturunan atau jumlah pengikut setia yang terkadang memiliki gap ilmu dan pemahaman terhadap esensi keberadaan sang Habib di muka bumi dan sekelumit peristiwa di komplek gw telah membuktikannya.

    Bandung, 18 Januari 2010

    http://ariefk.multiply.com/journal/item/114/Fenomena_Inflasi_Habaib

  22. dildaar80 berkata:

    Setahun belakangan ini fenomena habib dalam kultur masyarakat betawi massif terlihat. Wajah para habaib menghiasi hampir setiap sudut Jakarta, baik berisikan informasi tentang majil dzikirnya dengan tidak lupa memberikan foto habib dan sahabat dengan ukuran yang cukup besar, bahkan beberapa terlihat lebih besar dari papan reklame. Ketika Jakarta menyambut Pemilukada Jakarta 2012 nanti, reklame besar habib bersanding dengan tokoh politik yang akan bersaing juga tidak kalah banyak. Cukup beralasan jika tokoh politik memasang fotonya bersanding dengan habaib, karena jumlah masa mereka sangat banyak.

    Sebutan/gelar habib di kalangan Arab-Indonesia dinisbatkan secara khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra (berputra Husain dan Hasan) dan Ali bin Abi Thalib atau keturunan dari orang yang bertalian keluarga dengan Nabi Muhammad (sepupu Nabi Muhammad). Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib dan Fatimah bin Nabi Muhammad. Di lain pihak Ali bin Abi Thalib juga memiliki keturunan dari isteri-isteri lainnya. Gelar Habib tersebut terutama ditujukan kepada mereka yang memiliki pengetahuan agama Islam yang mumpuni dari golongan keluarga tersebut. Gelar Habib juga berarti panggilan kesayangan dari cucu kepada kakeknya dari golongan keluarga tersebut. Diperkirakan di Indonesia terdapat sebanyak 1,2 juta orang yang masih hidup yang berhak menyandang sebutan ini. Di Indonesia, habib semuanya memiliki moyang yang berasal dari Yaman, khususnya Hadramaut. Berdasarkan catatan organisasi yang melakukan pencatatan silsilah para habib ini, Ar-Rabithah,[1] ada sekitar 20 juta orang di seluruh dunia yang dapat menyandang gelar ini (disebut muhibbin) dari 114 marga. Hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar habib. (Wikipedia)

    Sebetulnya apa yang dilakukan para keturunan Nabi dalam berdakwah ke penjuru dunia adalah perbuatan yang mulia, majelis dzikir yang didirikan untuk senantiasa mengingat Allah juga bertujuan mulia menegakkan syiar Islam. Sehingga menggormati habib adalah hal yang wajar, tetapi pada kenyataannya sebagian masyarakat kita berlebihan dalam mencintai habib. Apalagi ada yang sampai menggap bahwa apa saja yang dilakukan habib menjadi benar, padahal habib adalah manusia biasa yang semestianya dinilai dan dicintai secara wajar dan objektif. Karena pada hakikatnya haris keturunan itu tidak menjamin seseorang otomatis menjadi maksum.

    و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

    “Barangsiapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya” (H.R. Muslim)

    di sana jelas bahwa, nasab (garis keturunan) tidak bisa berpengaruh atas timbangan amal seseorang. Karena pada hakikatnya seseorang hanya akan mendapatkan apa yang dia kerjakan
    وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

    “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-An’am: 132)

    Jadi tidak bisa derajat ketakwaan itu diturunkan melalui nasab, walaupun nasabnya itu langsung dari Rasulullah SAW. Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa kedekatan dengan Rasul tidak diperoleh berdasarkan nasab, tetapi dengan iman dan amal shalihnya .

    Dari aspek sosial Islam mengajarkan kesamaan derajat sosial di dunia, Islam yang membebaskan rasisme di kalangan masyarakat arab, Islam membebaskan budak-budak, memberikan kesempatan kepada orang-orang yang berkulit legam dan tidak membeda-bedakan dari keturunan mereka.

    “Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla, mendengar dan taat, meskipun seorang budak habsyi. (RH. Abu Dawud)

    Di sisi lain Islam juga mengajarkan untuk mencintai sesuatu tidak secara berlebihan “Cintailah kekasihmu dengan sederhana, boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika. Dan bencilah orang yang engkau benci dengan sederhana, boleh jadi engkau akan mengasihinya pada suatu ketika.” (HR At-Turmuzi).

    Sungguh, tidaklah manusia itu (dimuliakan) melainkan dengan agamanya
    Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan, dan hanya bersandar kepada nasab
    Sungguh, Islam telah mengangkat derajat Salman (al-Farisi) dari Persia
    Dan kesyirikan menghinakan Abu Lahab yang memiliki nasab (yang tinggi).

    http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/11/andai-aku-menjadi-habib/

  23. dildaar80 berkata:

    Habib Selon terlalu reaktif sampai2 urusan pribadi orang lain saja ikut campur??

    Operasi keperawanan yang dilakukan Dewi Perssik memang membuat geger publik, termasuk ketua FPI Jakarta, Habib Selon, yang menuduhnya berbohong melakukan operasi tersebut. Padahal Depe sengaja terbang ke Mesir untuk melakukan operasi yang masih dianggap sangat aneh di Indonesia.

    Disebut pembohong, emosi Depe memuncak. Meski nggak disampiakn secara langsung, mantan istri Saipul Jamil itu hanya berkicau melalui Twitter. Bahkan Depe menantang Habib Selon menikahinya untuk membuktikan keperawanannya.Wow, berani sekali pemilik goyang gergaji itu.

    “Wwuahhh habib selon,kusebut namamu GRATIS…kalau bilang sy bohong,terserah…tp yg tau sy bohong atau tdk,hanya suami sy.kalau mau tau sy PERAWAN atau TIDAK HABIB SELON hrs TIDUR sm sy,tp halal,sygnya walaupun HALAL sy tdk MAU,” ketus Depe dalam akun Twitter-nya, Rabu (15/06) sekira pukul 17.41 WIB.

    Depe sadar siapa yang sedang ia hadapi. Bukan pertama kalinya Depe menjadi incaran FPI karena tingkahnya yang selalu menuai sensasi. Tanpa memperdulikan siapa Habib Selon, Depe kembali berkicau.

    “HABIB SELON itu bukan ALIM ULAMA,tapi ALIM NGELAMAK. Sorry bro…;),” ucapnya.

    Entah apa reaksi Habib Selon ketika membaca kicauan Depe. Tapi yang pasti, Depe berani melakukan operasi keperawanankarena ditawari produser film KK Dheeraj untuk main film Hantu Pacar Perawan.

    Dewi diberi honor 1 miliar Rupiah di mana sebagian dari honor itu merupakan biaya operasi keperawanan. Alasan janda kembang itu melakukan operasi keperawanan adalah demi memuaskan suaminya kelak.

    Mungkin Depe ingin menghilangkan imej artis sensasi yang selama ini melekat pada dirinya. Maka ia begitu berani berucap untuk menantang Habib Selon tidur bareng. Jika Habib Selon marah, apa Depe nggak takut dilaporkan ke polisi lagi? (cumicumi@Vin)

    http://www.cumicumi.com/posts/2011/06/16/20836/26/dewi-perssik-tantang-habib-selon-tidur-bareng.html

  24. syaipullah berkata:

    ASS. SAYA AL FAKIR INGIN BEBAGI NIH ”
    KALO SAYA SETUJU SETUJU AJA KALO UMAT SENANG MELAKUKAN IBADAH, TAPI SETIDAKNYA KITA HARUS PIKIRKAN JUGA HAK2 ORANG, KARENA KITA TIDAK HIDUP SENDIRI, KALO DI JALAN YANG MACET KRN KONVOI JAMAAH ADA ORANG SAKIT MW KE RS, ATW IBU ENTE MW MELAHIRKAN, SEMENTARA JALANAN MACET, LANTAS SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB KALO MEREKA GA DAPAT TERTOLONG. SEMOGA KITA BISA MEMBERIKAN TAULADAN YANG BAIK BAGI SAUDARA KITA SESAMA MUSLIM, TERLEBIH LAGI ORANG ORANG NON MUSLIM. KARENA RASULULLOH BERHASIL DALAM DAKWAHNYA ITU SEMUA KARENA AHLAK DAN PERILAKU BELIAU YANG SANTUN BUKAN HANYA KEPADA SESAMA MUSLIM TAPI JUGA KPD NON MUSLIM. WASSALAM

  25. Hameed berkata:

    Ada habib dakwah,gak ada habib dakwah,jakarta tetap macet abadi,pemerintah gagal mengatur transportasi massal,lebih baik kita husnuz zhon kpd ulama’ dan pencari ilmu,agar kita tidak jadi golongan ke5,yg bukan 1.juru dakwah,2.pencari ilmu,3.pndngar ilmu 4.pecinta ulama,

  26. botakbiadab berkata:

    Indonesah pan bukan punya islam doang ya…
    coba klo umat agama lain ada acara keagamaan terus nutup jalan????
    POTONG KUPING GUE klo gak diacak-acak dan dibakar massa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s